25 January 2017

Membuat Sebuah Berita dari Pendapat Netizen di Media Sosial, Pantaskah?

Media Sosial

Haruskah isi berita saat ini hanya pendapat netizen di media sosial, tanpa sumber utama?


Jujur, sebagai pribadi yang menjunjung kebebasan berpendapat, setiap pendapat netizen di media sosial harus dihargai. Baik mereka berkata yang baik, buruk, hingga fitnah sekalipun semuanya tentu harus diperhitungkan sebagai sebuah bentuk komunikasi yang dilindungi oleh undang-undang. Namun apa jadinya bila sebuah pendapat oleh seorang netizen di media sosial dijadikan sebuah berita?

Fenomena ini sudah bermunculan di berbagai kantor berita, terutama kantor berita online dari skala kecil hingga besar. Seringkali para wartawan mengambil sepatah kata netizen di media sosial dan mengaitkan pendapat tersebut dengan isu yang sedang hangat belakangan ini. Tentunya untuk menarik minat para pembaca dan mampu membaca pendapat khalayak melalui komentar mereka.

Tapi apakah layak?

Mengenai kelayakan pendapat ini dijadikan sebagai bahan berita, ada beberapa unsur yang harus dipenuhi agar bisa menjadi nilai berita yang bermanfaat. Beberapa syarat diantaranya adalah, pendapat tersebut harus keluar dari pelaku kejadian tersebut, sehingga sesuai dengan kejadian sebenarnya. Pendapat ini juga menjadi unsur utama dalam sebuah pembuktian kejadian, biasanya disebut dengan sumber A1. Kemudian, dari rentetan cerita inilah kejadian tersebut dapat dijelaskan secara gamblang, sehingga berita makin bernilai dibaca oleh para khalayak.

Suara dari profesional di bidangnya juga menjadi pendapat netizen yang sangat dipertimbangkan untuk menulis berita. Dengan keilmuan mereka dalam suatu bidang, atau sudah lama menggeluti bidang tertentu selama bertahun-tahun, pendapat mereka menjadi sebuah pencerah dalam kemelut masalah. Pendapat para profesional ini juga menengahi silang pendapat yang ada dalam masyarakat, sehingga berbagai persoalan dapat terjawab dengan sempurna. Tentunya pendapat ini juga sangat berharga dan sejalan dengan media masa yang harus memberikan informasi bermanfaat.

Ada lagi sumber pendapat lainnya di media sosial yang bisa dijadikan bahan berita, seperti para tokoh masyarakat. Dengan kedekatan dan terkenal dikalangan masyarakat, tentu pendapatnya menjadi corong yang mewakili suara masyarakat dan bisa dipertimbangkan bagi kelengkapan sebuah berita. Meski mungkin tidak mengikuti kejadian sebenarnya, komentar mereka masih ingin didengarkan oleh publik. Masih banyak sumber-sumber lainnya yang bisa dijadikan berita, selain tiga tokoh ini.

Tentu semua suara sumber ini bisa berwujud dalam perkataan, gambar, hingga status di media sosial. Status yang bermanfaat tentu akan tersebar sendirinya, karena kebanyakan orang Indonesia gemar membagikan berbagai cerita baik. Tapi, kejadian ini juga mampu membuat orang lain menderita, akibat kebiasaan mencela kepada pendapat yang bertentangan dengan pemahaman mereka. Hal ini bisa diakibatkan kebiasaan berpikir pendek yang masih merajalela pada pengguna media sosial dengan pola pikir yang tertutup,

Lalu, apakah semua pendapat bisa digunakan?

Suatu hari, saya pernah diminta untuk menuliskan berita dari beberapa gambar yang ada dalam satu akun instagram seorang tokoh yang tiba-tiba mendadak terkenal dalam sebuah kejadian. Tentu saja, mencari latar belakang atau sumber gambar pertama menjadi sebuah kewajiban untuk menjaga bahwa berita yang dihasilkan tetap dalam koridor yang benar. Saya pribadi memiliki prinsip untuk menghasilkan informasi yang terjamin kebenarannya karena tidak ingin fitnah.

Setelah diperiksa secara cermat dan rekan reporter lainnya memberikan pendapat yang sama, ada sedikit kejanggalan dalam gambar tersebut karena hanya berisi informasi yang sedikit. Gambar tersebut hanya menampilkan sebuah barang mewah, tanpa adanya keterangan gambar, ataupun komentar orang lain. Asumsi yang timbul pertama kali adalah gambar barang mewah tersebut benar milik orang tersebut.

Namun setelah ditelaah lebih jauh, gambar tersebut hanyalah “reposting” dari akun lainnya yang tidak aktif. Jadi timbul sebuah pendapat kedua, bahwa barang tersebut bukan miliknya, karena tidak menampilkan sang tokoh. Bisa saja ia hanya menginginkan benda tersebut tanpa benar-benar membelinya di kehidupan nyata.

Berdasarkan dua asumsi ini, saya lebih memilih untuk tidak menuliskan berita tersebut karena tidak memiliki bukti yang kuat. Gambar akun instagram yang bisa dipahami menjadi sebuah pendapat dari penggunanya ini, tidak bisa menggambarkan bahwa ia benar-benar melakukan ataupun memiliki barang mewah tersebut. Takut dengan adanya fitnah dan membuat permasalahan lebih besar, saya memilih bicara kepada atasan dan tidak memproses berita ini lebih lanjut. Untungnya sang atasan mengerti dan tidak memaksakan kehendaknya.

Ada lagi sebuah kejadian yang memaksa saya mengolah gambar instagram menjadi sebuah berita. Kali ini datang dari seorang pesohor yang sedang berwisata ke Indonesia. Meski tidak diposting secara pribadi di akun instagramnya, ada seseorang yang berhasil mengikuti perjalanannya hingga ke beberapa tempat dengan foto yang jelas.

Sang pesohor ini tampak menikmati keindahan Indonesia tanpa didampingi siapapun, bahkan tidak membawa kamera. Tapi, pada akun instagram yang berhasil mengikuti, ada serentetan foto yang mampu memberikan kisah kepada khalayak bahwa ia benar-benar melihat pesohor ini. Bahkan di akhir perjalanan, ia berhasil menerima tanda-tangan asli yang penggemar setia pesohor ini saja sulit mendapatkannya.  

Akhirnya saya berani menjadikan rangkaian foto ini menjadi sebuah berita dengan beberapa asumsi. Pertama, sang pesohor benar-benar tertangkap kamera secara jelas dan nyata. Kedua, foto yang ada lebih dari satu buah, diperkuat dengan foto tanda tangan yang diberikan pada akhir kunjungannya di Indonesia. Sang pengguna instagram juga cukup sering memasukkan fotonya dan  ada percakapan di foto tersebut yang aktif dibalas. Bisa disimpulkan bahwa kejadian ini nyata dan tidak akan menimbulkan fitnah ketika diangkat.

Jadi pendapat mana yang bisa diangkat?

Saya pribadi memilih pendapat yang jelas dapat dipertanggungjawabkan. Maksudnya adalah, sang netizen yang pendapatnya diangkat aktif di media sosial, memiliki akun yang jelas, dan terdapat kejadian yang sesuai dengan pendapatnya. Mengenai sumber A1, para profesional, dan para tokoh masyarakat, tentu mereka menjadi filter pertama digunakan untuk membuat sebuah berita. Bila tidak ada, cukuplah yang bisa dipertanggung jawabkan.

Untuk pemilihan tone kalimat juga harus diperhatikan. Jangan sampai pendapat netizen yang diangkat bisa menjadi pemicu SARA dan kebencian pada pihak yang lainnya. Karena sebuah tulisan yang memicu pertentangan, akan mudah menyulut emosi orang lain untuk membantah pendapat tersebut. Kembali, karena kebiasaan orang Indonesia yang suka berpikir pendek, tidak mencari referensi hingga ke sumber utama.

Namun ada saja yang tidak sependapat.

Ya, seperti satu kejadian yang saya alami beberapa hari lalu. Atasan meminta saya untuk membuat artikel dari sumber salah satu website berita Indonesia. Isi beritanya adalah penampilan seorang pesohor yang berubah, namun di badan beritanya hanya terdapat kumpulan pendapat netizen dari media sosial. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai sang pesohor. Sepertinya sang reporter hanya mengumpulkan pendapat, dan membuat judul sebagai kesimpulan pendapat tersebut.

Sontak saya menolak karena tidak termasuk kriteria pendapat yang bisa dipertanggung jawabkan. Namun atasan saya malah mengatakan bahwa saya bodoh secara verbal. Ia berpendapat, bahwa pesohor adalah berita, dan berita seperti ini layak untuk disampaikan kepada khalayak.

Saya sangat setuju dengan atasan saya mengenai pesohor yang pantas dijadikan berita. Namun apakah hal seperti itu pantas bagi seorang reporter, yang tugasnya adalah membedah lebih dalam sebuah permasalahan hingga mendapatkan jawaban dari A1? Atau setidaknya memiliki derajat pendapat yang lebih tinggi dibanding sekedar netizen biasa?

Kalau menurut saya, berita yang “aneh” itu bisa jadi hasil dari kebijakan perusahaan memerah para reporter agar menghasilkan berita lebih banyak . Tanpa adanya proses pencarian berita, namun harus tetap memikat hati pembaca yang juga malas mencari sumber paling terpercaya. Sehingga sang reporter tidak sempat lagi untuk membahasnya lebih dalam, sesuai dengan tujuan media untuk mencerdaskan masyarakat.

Bisa saja, sang reporternya yang malas untuk mencari sumber pertama. Sehingga ia tidak mau membuat berita pesohor tersebut lebih dalam dan bisa dipertanggung jawabkan. Padahal, vitalitas, keingin tahuan, dan kemampuan menelaah informasi menjadi senjata utama untuk memberikan informasi yang akurat bagi pembaca.

Bila kedengarannya sombong atau terlalu menggurui, saya minta maaf. Karena inilah proses belajar untuk berpendapat. Banyak orang bilang, yang baru tahu sedikit akan berbicara lebih banyak, yang tahu lebih banyak akan bicara sedikit. Mungkin saya baru di tahap pertama.

Salam,

Akbar Muhibar.

1 comments:

Amanda Ratih said...

Bener mas.. Pernah loh status saya yg viral dicatut di sebuah media online. Sebel saya ih, ..ngambil2 royalti orang wkwk

Masih ada tuh buka aja fb saya amanda ratih pratiwi