04 June 2017

Lebih Sering Memikirkan Materi? Bisa Jadi Segitiga Hidup Anda Ada Masalah

Mandi uang emang enak, tapi kalau persaudaraan yang digadaikan?


Setiap manusia memiliki segitiga kehidupan yang harus mampu dijaga dengan seimbang. Heart, Head, and Hand. 


Barangkali sebagai manusia, kita lupa bahwa masing-masing individu memiliki 3 hal yang penting, dan menjamin perilaku tetap dalam posisi seimbang. Heart, Head, and Hand, alias hati, pemikiran, dan kreativitas. Tiga unsur ini juga menjadi motornya perkembangan manusia, yang harus dijaga dengan baik dengan porsi yang seimbang. Bahkan mereka yang dapat mempertahankannya, dapat mencapai kesuksesan yang dapat membahagiakan diri sendiri dan orang lain.


Istilah gampangnya, keseimbangan ini membuat manusia menjadi ‘lebih beradab’.


Barangkali prinsip keberanian yang sering diungkapkan orang betawi ‘lo jual gua beli’ sudah bergeser menjadi sebuah neraca jual beli. Neraca ini membuat orang-orang mulai memperhitungkan tenaga yang mereka keluarkan, pemikiran yang mereka curahkan pada sebuah pekerjaan, dengan hitungan angka yang nyata dalam tulisan kertas rupiah. Bahkan mereka rela untuk membandingkan semua kemampuan yang diberikan oleh Tuhan (bahkan kita sendiri tidak dapat menciptakannya, kecuali untuk melatihnya), dengan hitung-hitungan angka yang harus dipenuhi oleh orang lain.

Sampai-sampai, mereka lupa bahwa segitiga hidup tersebut dalam keadaan yang seimbang, sehingga kreatifitas harus bisa bernilai dengan lembaran merah, atau pemikiran yang mereka curahkan harus berwujud dengan tambahan nilai dalam rekening. Walhasil akibat nyata mulai tampak, segitiga sama sisi harus bergeser menjadi segitiga sama kaki. Dua kaki yang sangat besar rela mengangkangi satu hal yang disebutkan dalam kitab, memiliki peranan penting dalam keimanan terhadap sang pencipta dan hubungan dengan sesama, yaitu hati manusia.

Dengan hati lebih sempit dibandingkan kepentingan kreativitas dan pemikiran yang dikonversi menjadi angka, maka perselisihan yang berurusan dengan uang menjadi hal yang lumrah. Bahkan mereka rela membuat permusuhan, ketika angka tersebut sudah mulai jatuh dipandangan orang lain. Memutuskan sliaturahmi juga menjadi cara yang mereka (orang-orang yang lebih menghargai materi) kira elegan, untuk meningkatkan pundi-pundi angka menuju tingkatan maksimal, dengan mengabaikan hati yang memberontak.

Mereka tidak sadar, hati mereka sudah tergadaikan dengan rupiah yang tidak seberapa.


Contoh nyata sudah terlihat dan dekat di genggaman telepon pintar yang jadi senjata. Obrolan di WhatsApp kini sudah mulai menunjukkan indikasi, bahwa penentu kemanusiaan setiap orang sudah berubah menjadi uang. Anggaplah perbincangan sederhana tersebut hanya sebuah guyonan, tapi secara tidak sadar mampu menggambarkan situasi psikologis, yang mengharapkan angka dibanding eratnya persaudaraan.

“Ah males lah kalau mesti nulis sambil share medsos dapatnya cuma ***ribu, kan kita udah capek ini, capek itu”

“Kita udah ngorbanin kerjaan di rumah, eh goodybagnya cuma dapat *** sama ***, rugi ah dateng ke acara itu”

“Lagi ragu nih mau berangkat ke acara *** atau ***, bisa dibantu ga yang mana yang lebih menguntungkan?”

“Kalau saya dapetnya ga sampe ***, saya ga mau ikut proyek ini deh, ngga nguntungin”

“Saya harap, teman-teman unfollow atau block yang namanya si *** karena udah nyerobot job yang saya perjuangkan. Penipu!”

“Makan tuh recehan, duit *** ga seberapa aja lo belagu! Seharusnya lebih hormat sama orang tua!”

“Kok saya ngga pernah di undang di acara dari ***? Pasti ada apa-apanya!”

Udah mulai mual bacanya? Atau itu memang Anda?

Saya dipertemukan dengan seorang teman yang mampu melihat energi dalam tubuh. Sontak dia terkejut melihat energi saya yang buruk dan langsung berkata. “Bar, badan kamu itu capek gara-gara energi jelek yang ada di sekitar kamu. Kebanyakan sahabat-sahabat yang ada di sekitar kamu, hidupnya hanya mementingkan timbal baliknya saja. Segitiga hatinya menciut”

“Benarkah?” dan saya mulai tertegun, karena saya dulu juga seperti itu.

Semua dihitung rupiah, semua dihitung materi, semua harus menguntungkan kantong, semua harus bisa menjadikan saya mendapatkan manfaat yang lebih besar. Bahkan harus rela menginjak, memutuskan, dan menjelekkan sahabatnya sendiri, untuk mendapatkan porsi terbesar dalam sebuah pekerjaan. Sebegitu tinggikah kangkangan kaki materi, uang, angka rekening, ataupun pundi-pundi rupiah yang harus menginjak hati kecil kita?


Bangunlah!


Segitiga Head, Hand, and Heart harus berada dalam porsi yang sama. Mereka hidup berdampingan, dan menjadi motor dalam perjalanan hidup manusia dalam situasi apapun. Bak jari-jari roda di atas gerobak kehidupan, mereka harus sama panjang, sama kuat, dan sama kualitasnya agar tetap bisa bergerak. Banyak cara untuk menyeimbangkan segitiga ini, karena setelah mendapatkan pundi-pundi yang dikira maha dahsyat (padahal ngga dibawa mati) akan lebih baik kita mampu berbagi dengan sesama. Tak hanya berbagi materi saja (yang selalu takut berkurang ketika dibagi dengan orang lain), kehadiran Anda untuk bertemu, berbagi cerita yang memotivasi, atau menggembirakan hati orang lain dengan senyuman, itu sudah menjadi sedekah hati yang luar biasa.

Jangan sampai, hati yang menjadi titik tengah kemanusiaan yang ditanamkan tuhan dalam kehidupan, tertutup dengan keegoisan duniawi. Disini saya tidak bilang materi tidak penting, namun usahakan materi sekecil apapun yang pernah kita peroleh, mampu untuk dikonversikan menjadi media berbagi dengan sesama manusia. Buatlah mereka tersenyum dengan sikap, perkataan, dan perbuatan kita tanpa memandang siapa dia, apa urusannya, atau sedekat apa dengan kita, atau sebanyak apa uang yang mampu dia berikan dengan kita. Karena pada akhirnya, yang harus ditimbang adalah hati kita, bukan uang, ataupun seberapa kreatifnya kita mengelabui orang lain untuk mendapatkan keuntungan maksimal.


Semoga kita mampu selalu berbagi dengan baik di hari-hari selanjutnya. Amin. Karena setiap waktu, kita harus belajar.

Salam,

Akbar Muhibar.

Dekatkan Hati Lewat Bancakan, Sambil Ngeriung Mempererat Persaudaraan

Bancakan di Hotel Aston Marina Ancol bareng keluarga BloggerCrony Network dan BloggerCrony Comunity.
(Foto: Wardah Fajri)


Ketika para generasi milenial lebih doyan pergi ke kafe, apadaya kita yang masih kenal daun pisang lebih memilih ikut bancakan di Hotel Aston Marina Ancol.


Pedes! Bikin Nagih!

Berbagi tawa di bancakan bareng Hotel Aston Marina Ancol dan BCN. Awas, sambelnya pedes lho!
(Foto : Wardah Fajri)

Itulah pendapat pertama saya saat mencoba sambel matah mangga dan sambel balado goreng, yang ditebarkan di atas nasi uduk hangat. Bukan sekedar itu saja, potongan ayam goreng, dipadukan dengan gurihnya ikan asin, dan sayuran untuk lalapan menemani nasi uduk untuk disantap bersama-sama. Oh iya, sensasi gurih nikmat juga ditambah aroma daun pisang juga menambah selera makan, apalagi ditemani dengan es teh manis yang segar. Tentunya suapan nasi tidak akan berhenti sebelum semuanya ludes tak tersisa.

Apakah itu?

Bancakan ala garden party di Hotel Aston Marina Ancol bareng BCN.

Yap benar, semua sensasi nikmat dalam bersantap ini dapat dinikmati lewat bancakan. Alias makan bareng-bareng (kalau kata orang sunda mah ngariung) diatas daun pisang bersama orang-orang terdekat dan tersayang. Siapa lagi kalau bukan Blogger Crony Network dan Blogger Crony Community yang bersedia mengundang saya dalam acara super kece mereka. Bancakan di Hotel Aston Marina, Ancol, yang mendekatkan kami semua dalam sebuah situasi yang ceria.

Kebanyakan, bancakan sendiri biasanya diadakan di kebun, ataupun di saung deket sawah yang bukan milik saya. Biasanya makan siang ala bancakan ini mendekatkan suasana alam, ditemani semilir angin dan panas matahari yang terik. Namun apa jadinya jika sensasi kebersamaan itu dibawa ke level yang lebih tinggi? Sepertinya Hotel Aston Marina-lah yang membawa cara makan tradisional ini sebagai pelayanan prima hotel yang terletak di utara Jakarta ini.
Bancakannya tiba-tiba jadi model bagi para fotografer kondangan.
(Foto : Wardah Fajri)

Sama-sama suasana alam, bancakan di hotel ini  dilakukan di rooftop lantai 5, atau lantai M2, sehingga para peserta juga dapat menikmati pemandangan Jakarta dari sudut pandang yang berbeda. Dengan tempat yang nyaman, dilengkapi dengan berbagai spot foto dan bersendagurau dengan keluarga, tentunya suasana keakraban terasa makin hangat. Kreatifitas juga terlihat dengan memadukan bancakan, dengan kualitas culinary ala hotel berbintang yang makin melengkapi sajian kuliner yang ada.
Makin hepi setelah bancakan bareng, kenyang kan?

Selesai makan, kita makin kenyang dengan berbagai suguhan dessert yang menggoda selera. Ngga kalah dari generasi milenial yang minum kopi antar kota antar provinsi, kita juga ada camilan antar negara kok. Mulai dari cake, es campur melon, pudding kelapa, hingga cake blackforest yang nikmatnya warbyasah! Kalau kekenyangan sih, mending jalan-jalan dulu di hamparan rumput sintetis atau selfie sampai memori kamera jebol, karena lelah ngerekam gaya yang ga ada abisnya.
Ngga cuma makan doang, Anak-anak juga bermain gembira sambil mencium ketek sahabatnya.
(Foto : Wardah Fajri)


Karena space yang luas juga, bakal banyak acara yang bisa diselenggarakan di sini, mulai dari arisan mobil box, musyawarah antar kelurahan, atau ulangtahun punggawa BCN. Ternyata, bulan Mei adalah bulan istimewa buat Mba Yayat, Bowo, dan Mba Wawa. Walhasil terjadilah syukuran yang membuat kita selalu berysukur lahir batin, karena banyak kejutan yang sudah dipersiapkan. Mulai dari prosesi penyembelihan cake red velvet, sampe foto-foto kece dengan properti dari Hotel Aston Marina Ancol.
Hepi bersdey semuanyaaa! Red Velvet siap dibawa pulang!
(Foto : Wardah Fajri)


Tentunya kreativitas yang sudah diberikan oleh Hotel Aston Marina, pemikiran yang brilian dari BCN dan BCC yang mempertemukan berbagai Blogger untuk saling bertemu satu sama lain, dan menjalin silaturahmi dengan manusia lainnya menggunakan hati menjadi momen yang menyenangkan. Untuk itu, saya angkat jempol untuk semua pihak yang terlibat dalam kumpul bersama ini. Tentunya ini makin penting, ketika setiap orang perlu menyeimbangkan kreatifitas, hati dan pemikiran mereka agar tetap menjadi manusia yang baik.


Jadi apa pentingnya kreatifitas, kedekatan hati, dan pemikiran dalam hidup manusia? Cari tahu di sini.

Oh iya, jangan lupa abis makan-makan nikmat, cuci tangan yang bersih yak. Supaya tetap sehat dan bisa makan-makan kenyang lagi kayak kejadian ini.

Salam,

Akbar Muhibar.

10 February 2017

Curhat di Hari Pers : Terjebak Dalam Pusaran Berita Sejak Balita

Selamat Hari Pers Nasional ya semuanya! (nunjuk diri senidiri)


"Dulunya cuma nonton tv, ternyata sudah jadi takdir nyemplung juga kedalam pusaran ini"


Kata Ibu, saya bisa duduk tenang bila menyaksikan satu siaran saja, yaitu siaran berita. Waktu itu tahun 1995 hingga 1997, dimana saya sekeluarga tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara. Namun beruntung, pada tahun itu sudah bisa menikmati televisi dan stasiun televisi satu-satunya yang swasta - RCTI- sedang giat-giatnya memproduksi siaran berita.

"Kamu paling suka liat Desi Anwar. kalau udah liat dia, anteng tuh di depan tv," ujar Ibu.

25 January 2017

17 January 2017