10 February 2017

Curhat di Hari Pers : Terjebak Dalam Pusaran Berita Sejak Balita

Selamat Hari Pers Nasional ya semuanya! (nunjuk diri senidiri)


"Dulunya cuma nonton tv, ternyata sudah jadi takdir nyemplung juga kedalam pusaran ini"


Kata Ibu, saya bisa duduk tenang bila menyaksikan satu siaran saja, yaitu siaran berita. Waktu itu tahun 1995 hingga 1997, dimana saya sekeluarga tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara. Namun beruntung, pada tahun itu sudah bisa menikmati televisi dan stasiun televisi satu-satunya yang swasta - RCTI- sedang giat-giatnya memproduksi siaran berita.

"Kamu paling suka liat Desi Anwar. kalau udah liat dia, anteng tuh di depan tv," ujar Ibu.

Masa balita dengan siaran berita


Kebiasaan menonton berita di televisi tidak menghilang saat saya duduk di bangku TK. Saat itu sudah memasuki tahun 2000, dan televisi sudah menjadi barang lumrah di setiap rumah tangga. Tentunya hal ini baru bisa dirasakan setelah Ibu membeli sebuah televisi berwarna, seharga Rp 200 ribu yang merknya Philips. Saat itu kami sekeluarga berdomisili di Padang, Sumatera Barat, sambil menikmati masa-masa krismon yang tenang, karena jauh dari Jakarta, kota kelahiran saya.

Setelah berjalan kaki pulang dari TK, saya membiasakan diri untuk duduk di depan tv dan dengan sabar menghabiskan film india atau holywood yang diputar di RCTI. Ketika pas jam 12 siang, munculah Buletin Siang dengan logonya yang berwarna pink dan panah yang berputar dalam lingkaran. Tentunya, saya mampu duduk tenang hingga sajian itu berakhir selama setengah jam lamanya. Sambil memperhatikan interior studio yang canggih, dengan tv kotak-kotak yang kerlap kerlip dibelakangnya.

Salah satu kebiasaan yang senang saya lakukan adalah, berlagak seperti pembawa acara cuaca yang ada di Nuansa Pagi RCTI. Karena setiap pagi, akan ada pembawa acara yang memegang sebuah microphone kecil dengan tali yang panjang, persis kabel antena. Karena itu, saya sering iseng mencabut antena dari tv dan berubah menjadi seorang pembawa acara cuaca, dengan peta Indonesia dibelakang punggung saya.Tentunya dalam imajinasi saya saja.

Menginjak SD, anime mulai mencuri perhatian


Namun kebiasaan ini berubah ketika saya memasuki bangku SD, yang penuh dengan kebahagiaan karena rajinnya SCTV - stasiun tv swasta kedua di Indonesia- menyiarkan berbagai anime Jepang pada sore hari. Mulai dari Samurai X, Makibao, dan film lainnya sehingga kebiasaan melihat Buletin Siang sudah tergantikan. Anime ini biasanya akan ditayangkan selama satu hingga dua jam lamanya.

Tetap saja, yang namanya anak anteng gara-gara nonton berita akan tetap menantikan siaran Liputan6 Petang SCTV bersama mba Ira Koesno yang cantik jelita. Bersama Arief Suditomo, mereka akan membawakan berita dengan latar kota Jakarta yang diambil dari Bundaran Hotel Indonesia, atau Jembatan Semanggi. Kala itu, Liputan6 petang masih menggunakan logo bola dunia dengan angka enam yang besar.

Akibatnya, ketika ditanya oleh guru cita-cita apa yang diinginkan, saya selalu menjawab secara konsisten dari kelas 3 SD hingga SMA. Bukan dokter, bukan guru, bukan TNI ataupun polisi, jawabannya adalah "Penyiar Berita". Bahkan kemampuan saya makin terasah ketika pindah sekolah lagi ke Payakumbuh, Sumatera Barat, kampung halaman ibu.

Mulai buat berita sendiri, dengan tulis tangan


Berbeda ketika di Padang yang bisa menonton tv kapan saja dimana saja, Payakumbuh merupakan kota kecil yang lebih tenang. Perubahan teman dan sistem belajar yang lebih keras memaksa saya untuk meninggalkan kebiasaan menonton berita serta lebih banyak belajar. Tentunya seluruh hari mulai dari Senin hingga Sabtu mulai dari jam 7.30 hingga 15.00 semuanya dihabiskan di bangku sekolah.

Kalau dipikir-pikir sekarang kok bisa ya saya menulis koran dengan tulisan tangan sendiri? Tapi itulah kenyataannya. Pada kelas 6 SD, saya membuat beberapa lembar koran dengan logo dan layout kolom yang persis dengan koran, tanpa menggunakan gambar tentunya. Isinya? Cerpen, gosip di kelas, hingga hal-hal tidak penting lainnya namun tetap saja menjadi bacaan menarik di pagi hari bagi teman-teman sekelas.

Setiap malam saya harus memikirkan, cerita majalah Bobo apa lagi yang harus saya masukkan dalam selembar kertas buku yang dianggap sebagai "koran" ini? Gosip apa lagi yang sedang berkembang di kelas yang bisa saya ceritakan dalam laporan "pandangan mata"? Tulisan apa lagi yang bisa saya masukkan untuk memenuhi semua kolom yang saya buat?

Bukan tanpa pertentangan, orang yang suka saya buat gosipnya akhirnya membuat koran tandingan. Mereka hadir dengan lebih canggih -komputer- dan lebih rapih dibanding tulisan saya. Namun seluruh permasalahan ini selesai dengan saling memaafkan. Namanya juga anak-anak.

Setelah kejadian itu, saya perlahan menghilang dari dunia berita ecek-ecek. Masa kejayaan komputer sudah datang dan mencuri perhatian saya. Selesai SD pula, saya menjalani kehidupan SMP dan SMA dengan berbagai ekstrakulikuler yang berhubungan dengan menulis, yaitu Karya Ilmiah Remaja. Namun tidak ada lagi hal menarik yang bisa diceritakan, selain saat itulah saya mulai belajar desain grafis.

Takdir kembali datang, kuliah di program keahlian Komunikasi


Mengakhiri SMA dengan siswa ranking 33 dari 35 siswa, membuat saya tidak punya pilihan banyak untuk memilih universitas. Bila teman-teman lainnya berjuang untuk memilih universitas terbaik di tanah Jawa, maka saya lebih berusaha untuk mendapatkan jalur prestasi sehingga tidak perlu ujian SMPTN lagi. Karena saya tahu, saya tidak mampu melawan siswa SMA lainnya dengan ranking buncit ini.

Akhirnya Program Diploma IPB memberikan saya peluang untuk kuliah, untuk program Diploma 3 -yang sering menjadi bahan ejekan teman-teman, kenapa tidak sarjana saja- pada program keahlian Komunikasi. Tentunya pilihan ini sudah menimbang kemampuan orang tua dan kebetulan pula, seluruh saudara saya - kakak dan abang - sudah masuk duluan ke program ini, sehingga ada yang menjaga saya di tanah Jawa.

Tentunya pelajaran di program keahlian komunikasi ini membuka kembali semua memori yang sudah ditanam dari balita, mulai dari pembuatan berita, cara siaran, hingga membuat siaran berita sendiri. Namun ada satu kesempatan yang membuat saya benci menjadi wartawan. Sepertinya nasib saya berakhir seperti ini karena kebencian yang dibuat.

Nasib nilai 3 bagi sahabat saya yang tulisannya masuk koran Kompas 


Waktu itu semester 4, nama mata kuliahnya adalah Teknik Penulisan Media Cetak. Saya bertemu seorang dosen yang memiliki pemikiran yang "cukup berbeda" dan salah satu tabiat jeleknya adalah "tidak mau mengalah", bahkan debat dengan mahasiswanya sendiri. Kakak angkatan sudah memberikan lampu merah kepada dosen ini, karena pandangannya yang berbeda dari dosen kebanyakan.

Kalau mau diberi perumpamaan, dosen ini orang yang ingin "memoles batu kali menjadi berlian". Alias tidak mungkin bisa terjadi, kecuali si bapak ini bikin produknya Made in China. Salah satu petuahnya yang terkenal adalah "Percuma aja kalian masuk komunikasi kalau kerjanya ngga di media, paling jadi teller di bank", menohok dan membangkitkan amarah anak-anak yang mungkin impiannya jadi teller di bank.

Tapi, lampu merah ini baru benar-benar saya rasakan ketika beliau memberikan tugas menulis pada mahasiswanya. Saya ingat betul, perkuliahan tersebut baru berjalan dua minggu lamanya, dari 14 pertemuan yang direncanakan. Tidak disangka, beliau mengeluarkan nilai yang ganas-ganas kepada mahasiswanya, karena tidak ada yang lolos dari angka 7.

Angka 3,4,5, dan 6 menjadi gambaran nyata analisis beliau terhadap tulisan-tulisan yang diberikan oleh mahasiswanya. Tentu tidak ada yang senang dengan hal ini, karena mereka setidaknya harus mendapatkan akumulasi nilai 7 untuk memperoleh B dalam matakuliah ini. Salah seorang sahabat saya yang senang menulis, bahkan pada semester 2 kuliah sudah mampu memasukkan tulisannya ke koran kompas -koran prestisius yang isinya tidak bisa sembarangan dan sangat teliti untuk seleksinya- malah diberi nilai 3.

Hal yang menyedihkan adalah, kebanyakan teman saya yang mendapatkan nilai 7, adalah mereka yang menyontek tugas tersebut dari internet. Karena inilah saya mulai membenci pekerjaan sebagai wartawan. Lebih baik saya kerja yang lain saja dibanding jadi wartawan, karena yang mengajari saya saja, menilai tulisan berkualitas dengan angka 3. Sampai tahap ini, saya tidak tahu maksud beliau apa, namun karena kejadian itulah saya terkena "tuah", mendapatkan pekerjaan yang tidak jauh-jauh dari menulis dan berita.

Tuah pertama, bekerja sebagai editor untuk hampir ratusan tulisan tiap hari


Tuah pertama datang dalam bentuk yang mengejutkan. Belum selesai kuliah D3 saya jalankan, pekerjaan sudah didapatkan. Pekerjaan ini terdengar mudah, mengedit seluruh tulisan yang masuk dalam CMS, atau Content Management System, dan memastikan tulisan tersebut sudah memenuhi etika media siber. Namun kebencian saya dengan dunia menulis, membawa saya sulit untuk menyesuaikan diri dan menjadi sebuah mesin scan tulisan orang saja.

Layaknya sebuah robot, saya bekerja sesuai dengan SOP, atau Standard Operating Procedure yang ditempel pada meja kerja. Tidak hanya 1 atau 20 tulisan, dalam sehari saya biasanya saya mengedit 8 halaman CMS yang satu halamannya terdiri dari 25 tulisan. Tinggal dikalikan saja, rata-rata ada 200 tulisan dalam satu shift yang harus dikurasi. Mulai dari tulisan, gambar, hingga printilan lainnya yang harus dilengkapi, supaya tulisan tersebut dapat tayang dengan baik di media tersebut.

Mungkin inilah pelajaran yang harus saya terima, karena dengan pekerjaan ini saya dituntut untuk membaca seluruh tulisan, mengedit tanda baca dan kapital, serta menyusun paragraf agar nikmat dibaca. Kebiasaan ini membuat saya sangat teliti untuk menempatkan penggalan kata, hingga menggunakan kata sambung sehingga tulisan tampak mengalir lancar.

Namun pekerjaan yang saya lakukan sambil menyusun tugas akhir ini tidak bertahan lama. Dua minggu sebelum wisuda, saya menyatakan undur diri dari kantor tersebut dengan alasan melanjutkan kuliah D4 di kota Bandung. Selama masa kuliah di Bandung, saya menekuni bidang Televisi dan Film, bidang yang saya sukai di posisi kedua.


Tuah kedua, memproduksi tulisan dari tempat yang belum pernah saya datangi sama sekali


Tuah kedua hadir ketika saya memutuskan untuk mengambil internship di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang pariwisata, setelah lulus kuliah D4. Di perusahaan ini saya dituntut bisa membuat konten sesuai dengan pesanan, mulai dari bercerita tentang indahnya pemandangan alam di Australia, hingga perayaan meriah yang dilakukan di setiap kotanya yang belum pernah saya datangi seumur hidup.

Selama tiga bulan internship inilah saya ditantang mampu memberikan visualisasi terhadap berbagai keadaan, yang belum pernah dirasakan. Tentunya dengan satu tujuan, membantu para pembaca menikmati hal yang menyenangkan hanya melalui kata-kata. Tulisan juga harus mampu menyihir pembaca dan memberikan ilmu baru, sehingga mereka merasa puas setelah selesai membaca tulisan kita.

Sulit memang untuk mencoba menulis dengan kriteria seperti itu, tapi saya mendapatkan pelajaran kedua. Bisa jadi beliau -sang dosen- memberikan nilai yang rendah, karena tulisan saya dan sahabat saya gagal memberikan rasa puas pada pembacanya.  Pembaca selalu menuntut lebih dari ekspektasi sang penulis, yang membuat mereka bersedia menunggu karya terbaru dari para pujangga tersohor di seluruh dunia.


Tuah ketiga, beneran jadi wartawan


Kalau kata orang jangan terlalu benci dengan sesuatu, karena bisa saja besok kamu jatuh cinta dengan hal tersebut. Petuah tersebut benar-benar terjadi pada saya sekarang, karena kenyataannya sekarang saya mengalungi sebuah ID Card dengan kartu pers yang ada dibaliknya. Hal yang saya benci, kini harus saya telan bulat-bulat dan berubah menjadi kehidupan sehari-hari.

Tapi saya yakin, perjalanan ini belum berakhir hingga pada akhirnya saya harus belajar lagi. Ilmu komunikasi, pers, dan penulisan akan selalu dinamis dan berkembang tiap harinya. Salah satu contohnya saja ketika saya menemukan kata "nirtegang" pada siaran langsung Metro TV beberapa hari yang lalu. Bahkan saya cari di KBBI saja, nirtegang tidak memiliki sebuah arti.

Kalau diartikan secara bebas, nirtegang bermakna tidak ada ketegangan.

Hal ini menjadi sebuah pertanda, bahwa perkembangan ilmu padu padan kata saja masih mengalami perkembangan, apalagi soal berita dan pers yang terus menghadapi dinamika setiap detiknya?

Intinya harus belajar dan praktek. Jangan lupa tetap mengikuti 4 sifat Rasulullah yaitu shiddiq, amanah, fathonah, tabligh dalam setiap langkah, bahkan saat mengetik berita. Titik.

Selamat Hari Pers Nasional 2017!
Kapan jadi presenter beritanya ya? Ah, belajar aja dulu.

Salam,

Akbar Muhibar.





3 comments:

Dita Indrihapsari said...

Keren kau kaaak.. Dari kecil udh kpikiran bikin koran tulis tangan.. :D Aku dulu jg suka nonton berita sama bapakku, bahas berita di tv.. Anak SD macam apa bahas politik.. ahahaha.. Akhirnya pingin jd wartawan, kan.. Pernah jd reporter majalah anak, sampe skrg jg kerja di media.. :D Kerja di media itu menyenangkan, yah, kalo sesuai passion.. Sukses terus kaak..

Adiitoo Prawira said...

Wuidih, tetangga satu bos di kantor sudah pernah jadi editor. Kena tulah lo sekarang :)))

Amanda Ratih said...

Jadi wartawan tentu aja ga gampang mas, soalnya wartawan harus punya idealisme. Harus bisa membedakan mana data mana informasi biar ga terlahir berita hoax hehe