13 January 2017

Impian yang Dikabulkan, Penggemar, Hingga Menjadi Additional Member Honeybeat

Wefie di studio O-Channel, SCTV Tower Lantai 16 (foto : Honeybeat)

"Our positivity, will last for eternity" - Electrified Nite by Honeybeat



Kalau orang bilang, teruslah bermimpi hingga ke bulan. Jadi, kalau impiannya tidak terkabul, masih bisa nyangkut di antara bintang. Tapi apa jadinya, kalau mimpinya setinggi pohon aren, tapi sampainya ke bulan? Mungkin ini adalah salah satu kenyataan yang diberikan oleh Tuhan kepada anak yang biasa-biasa saja ini. Sebutlah yang tidak punya kapabilitas apa-apa dalam berkesenian.

Siapa Mereka?

Mereka adalah Honeybeat, sebuah keluarga baru yang didapatkan setelah hampir tujuh tahun jadi penggemar setia. Dulu saya sering mendengarkan lagu mereka dari album awal yang berjudul "Twinkling Melancholy". Inipun karena abang saya yang mengunduh berbagai video lagu dari salah satu ajang pencarian bakat populer saat itu, sekitar tahun 2008-an. Diantara semua video yang ada, saya hanya tertarik dengan band ini karena satu hal.

Liriknya menggunakan bahasa Jepang. Oh iya, vokalisnya juga nyanyi sambil main pianika.

Tentunya di zaman SMA tidak ada orang yang mengerti mengenai lagu jazzy dan catchy seperti yang dibawakan Honeybeat. Saat itu, putih abu-abu gemar mendengarkan lagu punk, dan electro yang baru naik daun karena salah satu band yang kini juga sudah redup namanya. Saya juga mengerti kalau selera musik saya sedikit berbeda dari yang lainnya, jadi tidak menjadi masalah besar ketika saya memutuskan menjadi pendengar setia mereka.

"Suatu hari, saya akan bertemu dengan mereka di Jawa," saya bergumam sambil menonton video penampilan mereka. Ternyata, keinginan ini menjadi nyata beberapa tahun kemudian.

Pertemuan Langsung Pertama


Liputan Honeybeat dalam tugas mata kuliah Teknik Wawancara tahun 2011
Pertemuan pertama saya dengan honeybeat berlangsung di backstage acara Ame No Matsuri 1 1/2 yang dilaksanakan di RRI Bogor. Kebetulan saya bersama teman-teman DIJF Club (yang akhirnya berubah jadi geng selamanya), berencana menghadiri festival Jepang ini. Saat berkumpul bersama sambil menonton beberapa pagelaran yang disuguhkan seperti tarian dan cosplay superhero, kami baru sadar bahwa bintang tamu pada acara ini adalah Honeybeat.

Tentunya kesempatan ini tidak akan dilewatkan demi nilai kuliah yang bagus. Untuk itu, saya dan Alivatuddiniyah, teman satu jurusan, memberanikan diri untuk wawancara langsung Honeybeat sebelum mereka tampil. Meski tidak ada persiapan dan bermodal nekat, tetap saja wawancara tetap dilakukan dan narasumber kami adalah Gema, sang basist, dan Andos pemain drum.

Saat itu juga ada personel lainnya yaitu Ochang sebagai keyboardist, Tika sebagai vocalist, Nita sang vocalist utama, dan Amos sebagai guitarist. Jujur, saat itu perasaannya sangat senang sekali bertemu dengan band yang sudah digemari sejak dahulu. Bahkan setelah sesi foto bersama, saya berseloroh dengan teman-teman hingga terucaplah satu kalimat yang sakti.

"Saya bakalan main musik bareng mereka".

Tentunya saat itu hanya berseloroh sambil tertawa bersama teman-teman yang ada dalam gambar, seperti kibaw, putra, rizki dan dini. Namun takdir berkata lain, Allah menunjukkan jalan lainnya untuk menggerakkan kenyataan seperti yang Ia inginkan. Suatu hari di tahun 2015, saya kembali dipertemukan oleh mereka.

Pertemuan Kedua

Gara-gara Honeybeat, bisa ketemu Maliq & D'Essentials

Persiapan skripsi semakin dekat, bahan-bahan untuk membuat proposal sudah dikumpulkan. Tinggal narasumber saja yang belum didapatkan untuk bahan film dokumenter dengan tema cover music. Narasumber yang sudah dihubungi sebelumnya seperti Eka Gustiwana yang saat itu nge-trend belum memberikan jawabannya. Produser musik muda yang saya sukai, Farhan Sarasin, juga tidak bisa memberikan keikutsertaannya dalam film ini karena sedang ujian sekolah.

Akhirnya dosen yang nantinya menjadi pembimbing saya, Ibu Dara, memberikan saran menghubungi narasumber yang dekat dengan saya. Saat itu, yang terpikirkan adalah Nita Akhsana, vocalist Honeybeat yang saat itu sedang membuat status Facebook mengenai lagu terbarunya. Mereka membuat cover lagu anime shinchan yang populer tahun 2000. Tentunya ini menjadi kesempatan bagus untuk menghubungi mereka sebagai narasumber film dokumenter ini.
Pertama kalinya, bebas masuk Backstage GJ UI karena jadi tukang video Honeybeat
Dengan keyakinan tinggi, saya langsung mengirimkan pesan via facebook ke Nita, sambil memohon bisa bertemu untuk wawancara. Setelah percakapan yang cukup lama dibalas, Nita menyanggupi sebagai narasumber dan mengikuti aktivitas Honeybeat selama dua minggu. Saat itu, banyak kegiatan yang harus dilakukan band ini karena bertepatan dengan acara Gelar  Jepang Universitas Indonesia tahun 2015, dimana mereka menjadi salah satu bintang tamunya.

Tak disangka, dari Honeybeat pula berbagai narasumber yang sebelumnya sulit didapatkan. Mulai dari artis papan atas, seperti Adam Sheila On7 (maaf ya mas Adam, DVD-nya belum saya kasih), hingga Angga Maliq & D'essentials yang bersedia masuk kamera. Saya juga bertemu beberapa narasumber ahli seperti Mas Eddy Mohammad, pemerhati musik, dan Mas Agus Aziz drumer Krakatau Band.

Asli lho, membuat transkrip wawancara dengan Angga Maliq & D'Essentials

Bersama Honeybeat, perlahan-lahan proses film dokumenter ini bisa diselesaikan dengan cukup cepat. Semua dimulai sejak akhir Juni 2015 hingga selesai sidang pada 23 Oktober 2015, sehari sebelum saya berangkat ke Praha, Republik Ceko untuk berlomba paduan suara bersama PSM D'Voice IPB.

Bergabung Sebagai Additional Member

Poster film dokumenter Honeybeat Cover Style (intinya tentang Hibi semua)

Sepulangnya dari Praha, saya menunaikan janji memberikan hasil film dokumenter yang akhirnya diberi judul "Honeybeat Cover Style". Karena film ini benar-benar menceritakan sejarah, hingga perjuangan mereka tetap bertahan di kancah dunia musik indie Indonesia. Setelah memperlihatkan film yang sudah selesai dibuat, Andos akhirnya angkat bicara.

"Lo maunya jadi apa bar, videographer, atau backing vocal?".
"backing vocal aja," jawab saya mantap.

Akhirnya, saya mulai bergabung menjadi Additional member pada bulan Desember 2015. Bisa dibilang kini personel Honeybeat sudah bertambah gemuk, dibanding band yang saya kenal dahulu pada zaman SMA. Kini posisi vokal tinggal satu orang, yaitu Nita, bass tetap di Gema, keyboard tetap di Ochang, dan drum dimainkan oleh Andos. Guitarist yang dulu sudah berganti ke tangan Chatur, ditambah backing vocal  Citra, Saya, dan dibagian brass section ada Yornan dan Dovi.

Meniti karier (yang entah sampai kapan) sebagai backing vocal di Honeybeat

Bisa dibilang ini adalah pengalaman yang luar biasa, berkarya meski ada di balik layar sudah menjadi hal yang menyenangkan. Selama satu tahun, banyak pengalaman yang dirasakan, mulai dari manggung tanpa penonton, menghabiskan tahun baru menyanyikan 18 lagu, hingga satu panggung bersama Sheila On7 (kembali, Mas Adam untungnya masih kenal saya, mungkin).

Jadi, kalau mau bercanda atau berharap, usahakan selalu yang positif. Karena siapa tahu, candaan baik Anda akan berubah menjadi sebuah kenyataan yang manis dan mengubah jalan hidup kedepannya. Siapa tahu pula, keinginan kecil yang disepelekan, ternyata itulah yang dikabulkan oleh Tuhan.

Siapa tahu.

Terimakasih atas perhatiannya,
Akbarmuhibar


0 comments: